Entri Populer

Selasa, 28 Februari 2012

Hikmah di Balik Musibah Pasaman/ Catatan Muslim Kasim (Wagub Sumbar)


Bila Tuhan berkehendak, tak ada yang tak mungkin. Tak akan terjadi sesuatu tanpa ridho dan restuNya. Untuk itu, tak usah takut tak usah gentar, Tuhan Allah bersama kita. senyampangpun negeri kita yang elok ini ternyata adalah negeri dalam kumpulan potensi bencana, hal demikian itu tak perlu kita cemaskan benar. Yang perlu kita lakukan adalah menyiapkan diri menghadapi kejadian seburuk apapun juga. Saat itu, kearifan lokal, dan buadaya siaga bencana harus kita tanamkan dalam kehidupan sosial masyarakat kita. Usah bencana mengundang gelisah. Usah bencana membuat langkah kita dalam menata kehidupan ini menjadi tertatih-tatih. Pada tiap apa yang terjadi, pasti ada hikmah di balik sana.

Kita mengetahui bahwa lebih dari 75 % negeri di Sumatera Barat terhampar di punggung, dan di kaki bukit barisan. Berada di posisi ini, longsor mengancam kita. Lalu, di negeri kita yang mempesona ini melintang sungai-sungai besar dari berbagai hulu di atas bukit barisan. Membujurnya sungai, tak bisa dilepaskan ancaman banjir menjadi potensi yang dapat mengancam kita kapan saja. Kemudian, di Barat, Samudera membentang luas. Laut biru, sunset yang indah, dan nun jauh di dasar lautan itu tergaris patahan bumi yang mengancam negeri kita bergoyang dalam bencana gempa. Tidak di laut, tidak di gunung, tidak di dataran luas, di mana-mana bencana bisa saja terjadi. Bila tak longsor, gempa.Bila tak gempa, puting beliung menyabung mengirimkan kabar-kabar duka.

Sekali lagi, itu tak perlu kita risaukan. bagaimanapun juga, persoalan terberat dari manusia adalah kematian. Siap tidak siap, kita harus mati. Sementangpun begitu, negeri kita yang disebut-sebut sebagai etalase bencana, harus kita siapkan sebagai negeri yang rakyatnya senantiasa waspada dari segala ancaman dan marabahaya dari amuk alam yang tiada terkira. Siaga bencana mesti kita tanamkan sejak dini. Dari anak-anak, dari usia dini itu, sudah kita berikan pendidikan atau pengetahuan tentang kebencanaan. Dan kita siapkan ketangguhan mental mereka dalam menghadapi setiap detik kemungkinan bencana yang bisa saja menimpa.
           belajar kita sampai ke negeri Sakura. Negeri jepang adalah negeri yang sangat akrab dengan bencana gempa. Sejak usia dini, Jepang menyiapkan mental anak generasinya dalam menghadapi bencana gempa. Kabar potensi bencana, kepada anak-anak kita, kita sampaikan sebagai bahan pengetahuan bagi mereka, bukan sebagai kabar yang menakutkan hati mereka. Kita khawatir, jika "pendidikan dan pengetahuan" kebencanaan tidak kita lakukan sejak dini, maka apa yanbg kita cemaskan---yakni negeri ini akan melahirkan generasi muda yang penggamang dalam kehidupan dan hilangnya rasa kepercayaan diri yang berlebihan. sehingga, mereka juga sekaligus kehilangan karakter. Bila ini terjadi, alamat betapa gelapnya Sumatera Barat puluhan tahun ke depan.

Rabu malam lalu itu, saya diberi kabar. Dalam dukanya, Pak Bupati Pasaman (Benny) memberi kabar isak pada saya tentang derita rakyatnya dalam bencana manakala air bah dari Bukit Ambacang mengirimkan petaka yang menimbun dan menghanyutkan rumah masyarakat Nagari Simpang kecamatan Simpang Alahan Mati ( Simpanti) Kabupaten Pasaman. " Air itu datang mendadak. Puluhan rumah masyarakat rusak berat, Bang (begitu benny menyapa saya). Sykur alhamdulillah, tak ada korban jiwa. Tapi, sawah ladang masyarakat porak poranda", begitu Benny memberi kabar pada saya. Bersama-sama dengan Pak Gubernur, kami melakukan instruksi ke berbagai pihak terkait untuk melakukan penanggulangan pasca bencana, biar beban masyarakat korban bencana menjadi ringan. Kita inginkan sebuah penanggulangan yang sistimatis dan terpadu dalam konsep "kaba baik baimbauan, kaba buruk bahambauan, barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, sasakik kito sasanang, baban barek kito ringankan, aia mato jatuah kito hapuih jo raso, tangih indak ka mamakiak, sakik indak ka mangaluah'...begitulah, syukur alhamdulillah, mulai dari pemerintah propinsi hingga pemerintah kota dan kabupaten di Sumbar ikut turun membantu guna meringankan beban masyarakat. Sykur alhamdulillah, ternyata kebersamaan itu masih membudaya di tengah dinamika kehidupan yang makin keras dan tajam ini.

Minggu sehabis solat Subuh itu, sebelum menuju lokasi, sekali lagi saya berdoa kepada Tuhan, semoga masyarakat Simpang Pasaman itu diberi kesabaran, ketabahan dan keikhlasan. Dan, semoga kita dapat meringankan beban berat mereka yang sudah kehilangan harta benda, sawah ladang dan mata pencaharian. Saya selalu memesankan kepada masyarakat korban bencana , bahwa manakala kita kehilangan, pasti ada hikmah di balik itu semua. Bukankah harta Allah, milik Allah akan kembali kepada Allah. Dalam petaka menimpa, tak ada kata lain selain lafaz Innalillahi Wainnailaihi Roji'un. Dan pada sisi lain, harta benda boleh saja hilang, namun satu yang tidak boleh lenyap di dada, yakni iman!

Minggu siang, saya beserta beberapa pejabat propinsi terkait seperti Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumbar, Pak Yazid, Kepala Dinas Pertanian Jonny, Kepala Dinas Sosial Gaffar, Kepala Dinas PSDA Ali Musri dll sampai di lokasi bencana.

Inalillahi wainna ilaihi roji'un.
Indahnya gunung dari kejauhan, adalah terjemahan mata. Gunung, pasti berimba, bersemak belukar, berduri dan lain sbagainya. dan siapa sangka dari puncak Bukik Ambacang itu, yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari nagari Simpang tersimpang "wabah" bencana. Dalam riwayat apapun jua, di atas bukit itu tak ada telaga. Tak ada. Tapi mengapa air mengucur dan meluncur begitu sangat banyaknya? Padahal, ulu sungai batang buluh yang meretas negeri itu tak berhulu dari atas bukit itu. Apakah itu karena kita terlalu acap "menyakiti" alam, dan ketika alam "muntah" kita terpekik?

Menyaksikan kecentangperenangan nagari Simpang, saya terhening dalam kalimat ilahi. Negeri hijau itu kini menjadi negeri dalam kubangan lumpur dan kayu-kayu gelondongan yang menua yang tercerabut dari urat akarnya. Dan sebagian tampak seperti kayu bekas dikerat-kerat.Ada apa pula ini?

Seorang lelaki, M Nasir namanya. Usianya sekitar 56 tahun. Ia korban yang nyaris hanyut. Lekaki ini bercerita pada saya...Bertutur itu lelaki pada saya, katanya sore itu ia usai melaksanakan solat ashar. Sudah solat, ia mengubak pinang. Nasir mendengar orang menjerit histeris. Orang heboh. " Aia...aia gadang...ondeh aia hoi!" begitu teriak orang panik di desa yang damai ini.

"Sebelumnya saya tidak cemas-cemas benar, Pak.Air datang dari sungai bergulung-gulung setinggi satu meter, itu adalah biasa bagi kami di sini", kata Nasir pada saya. Tampak bibirnya bergetar; " tapi, sekitar 15 menit atau 12 menit setelah lidah air pertama datang itu, saya melihat dan mendengar dari kejauhan bunyi gaung yang merindingkan. Ini yang membuat saya harus lari. Jarak rumah saya dariu sungai itu hanya beberapa meter. Saya teriak-teriak pada anak dan cucu supaya lekas mencari tempat tinggi. Dan saya ingat, kabau sadang tapauik. Saya kejar bantiang itu. Tak lama saya mengirik kerbau ke tempat yang lebih tinggi, air datang bagaikan tsunami yang cukup tinggi, berkisar atara 5 hingga enam meter.Dan saya melihat air menyapu ganas rumah-rumah penduduk yang sudah berlarian mencari tempat tinggi di gerimis yang mencucuk hati karena diiringi dengan pekik panik kami", tutur Nasir.

Saya mendengar Nasir, dan membayangkan betapa mencekamnya keadaan. Tapi, syukur alhamdulillah, korban jiwa tak ada. Dan itu berarti, kearifan alam masyarakat kita sangat baik. " Pak Nasir, sabar ya. tabah. Rumah runtuh dapat didirikan. Harta hilang dapat dicari. Yang penting Pak Nasir dan keluarga selamat. Nanti, bersama-sama kita kembali menata kehidupan masyarakat yang mau tak mau harus memulai kembali dari nol. Dan dengan semnagat dan iman, kita bangun kembali desa ini", kata saya pada Nasir dan beberapa korban bencana di sana.

Suatu ketika, saya melihat rumah yang atapnya sudah terkapar di tanah. Rumah itu bagaikan puing di tengah lumpur dan kayu-kayu besar. Ternyata rumah itu milik seorang ibu, Idah namanya.Usianya 52 tahun. Saya menyalami ibu Idah.Ibu bermuka sabak itu tampaknya masih trauma." Rusak jantung hati ini Pak bila teringat kembali musibah air bah itu", Idah membuka fakta pada saya.
     Katanya, kala itu ia terjebak dalam rumah. Orang sudah berteriak "aia...aia...hoi....lari-lari"
, namun ia telat. Ia telanjur dikurung air gadang. " Saya melihat, rumah saya sudah berdarak-darak dihantam air dan kayu gelondongan. Saya pijak jenjang, jenjang hanyut. Saya terus memanjat ke atas, air makin menjilat kaki saya. Dengan keyakinan untuk hidup, saya berhasil memanjat atap loteng. Di bawah saya lihat air dengan leluasa menerjang apa yang menghalang. Saya juga melihat, betapa ganasnya air yang datang menyambar. Saya menggigil ketakutan", ujar Idah yang sempat berhatah hingga satu jam air surut.

" Air susut, saya berteriak-teriak minta tolong.Semua menjadi gelap. Sampai habis suara saya, teriak makin saya ajan makin nkecil kedengarannya. Lalu kemudian, beberapa orang masyarakat menemukan saya sedang di atap. Mereka membopong saya. Mau mati rasanya badan. Biarlah harta benda hilang, tapi saya bersykur masih diberi Tuhan kehidupan. Tak ada barang yang dapat saya selamatkan, selain baju yang melekat di badan ini", tutur Idah.

Idah juga mengungkapkan kekecewaannya karena, ternyata ada orang yang tak menjadi korban, juga ---tanpa rasa malu---ikut menerima bantuan. " Mereka mendapat di atas derita kami", lirih Idah. Dalam pada itu, saya pesankan kepada "tim" supaya apapun bentuk bantuannya harus cepat dan tepat sasaran!

Melihat wajah-wajah sabak, wajah-wajah kehilangan, perasaan mana yang tahan akan pandangan begitu? Mau tidak mau, lingkungan Nagari Simpang menjadi rusak. Sungai mendangkal.tertimbun lumpur dan pepohonan. Sawah ladang dan irigasi centang perenang.Tidak berketentuan. Jalan bagaikan kertas cabik.Rongkas. Saya kembali instruksikan kepada Kepala PSDA Ali Musri supaya selekasnya dilakukan normalisasi sungai. Tampaknya Ali Musri ditantang untuk sigap.  Kepada dinas Pertanian, saya pintakan agar kembali menata ruang-ruang pertanian yang rusak itu. Syukur alhamdulillah, Jonny, kepala dinasnya cepat menanggapi dengan  melakukan pertemuan kilat dengan sejumlah kelompok tani dan jajaran pertanian kabupaten Pasaman. Begitu juga dengan Dinas Sosial, kepada Pak Gaffar, kadisnya, saya garis bawahi benar supaya distribusikan bantuan dengan cepat dan tepat sasaran. Jangan sampai, bantuan salah alamat yang tak tiba pada yang seharusnya mendapat.

Saya beri apresiasi plus kepada Pak Bupati Benny yang tampaknya bekerja dengan sangat maksimal dan melakukan kordinasi dengan sangat baik dengan jajaran-jajaran terkait. Tampak benar kesungguhan Pak Bupati dalam meringankan beban rakyatnya yang sedang menimpa musibah. Adalah sebuah sikap yang sangat amanah dan bijaksana  manakala dalam derita, dalam gelisah, pemimpin senantiasa berada di tengah masyarakat dan tak meninggalkkan masyarakatnya dalam bancah bencana. Dan itu telah diulakukan Benny dengan selalu ada dan berada untuk masyarakatnya, baik dalam susah maupun dalam senang.

Soal jalan yang porak poranda, tentu kita bangun kembali. Kita berharap masyarakat Nagari Simpang lekas bangkit dari himpitan musibah. Dan sebuah musibah tak harus membuat kita patah atau rebah, tapi membuat kita tersadar untuk lekas bangkit dan berdiri dari segala keterpurukan. Dan, kita akan tetap dan selalu bersama masyarakat(MK)

1 komentar:

  1. Kami berharap...Bapak Wakil Gubernur kita yang tercinta bersama jajarannya diberi kesehatan. kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan Amanah dan Kepercayaan untuk membantu masyarakatnya dalam menghadapi berbagai bencana dan cobaan semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan pengorbanan yang telah bapak lakukan serta menjadi amal ibadah hendaknya....amin..

    BalasHapus