Entri Populer

Kamis, 25 April 2013

Perguruan Tinggi diharapkan Asah kemampuan Enterpreneur Mahasiswa


Dengan perjalanan panjang selama 32 tahun, Universitas Bung Hatta tentu telah banyak menyumbang pemikiran dan hasil karya terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan infrastruktur di sumatera barat, kami selaku pemerintah daerah sangat mengapresiasikan hal ini, ujar Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim ketika memberikan sambutan pada acara Dies natalis ke -32 Universitas Bung Hatta, Rabu pagi di Gedung Rektorat Universitas Bung Hatta (24/4).

Bahkan Universitas Bung Hatta juga nantinya diharapkan berperan serta dalam memberikan sumbangsihnya untuk membantu menanggulangi bencana, dengan merancang shelter, sirine komunitas dan lain sebagainya, karena telah dibukanya program Pasca Sarjana Konsentrasi manajemen Resiko Bencana, kata Wagub.

Wagub Muslim Kasim juga menjelaskan, Melihat keadaan terkini, dimana di keadaan geografis Sumatera barat dan di Indonesia yang sangat rawan akan bencana, negeri ini tentu akan membutuhkan tenaga-tenaga ahli di dalam membantu mengurangi kerugian bencana dan membantu rehabilitasi pasca bencana, oleh sebab itu Universitas Bung Hatta diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut dengan melahirkan tenaga-tenaga ahli manajemen bencana dari segala unsur.

Kemudian untuk menyikapi langkah –langkah bagi para mahasiswa Bung Hatta setelah lulus dan memasuki dunia kerja, gagasan Prof. Fahri Ahmad membentuk Wadah alumni, sangatlah baik sekali. Apalagi Wadah ini bisa difungsikan sebagai pusat informasi bursa kerja bagi para alumni.

“ Job Placement Center” itulah tepatnya ujar Wagub. “Dengan adanya wadah tersebut, juga bisa difungsikan sebagai lembaga yang mempersiapkan alumni untuk memasuki dunia kerja , menghimpun informasikan tentang lowongan kerja , dan menyiapkan rekomendasi dalam memasuki dunia kerja sesuai dengan kemampuan kerja para alumni nantinya”, saran Wagub.

Disamping itu Job Placement Center ini juga bisa melatih dan membimbing alumni untuk bisa berwiraswasta. Karena memang negeri ini sangat membutuhkan para entrepreneur- entrepreneur muda yang dapat menggairahkan dunia swasta di Indonesia. “saya lihat perguruan-perguruan tinggi di Indonesia kurang memberi perhatian dan mengasah kemampuan para mahasiswa untuk memasuki dunia entrepreneurship”. “Bahkan bisa kita lihat putra-putri terbaik bangsa Indonesia, mereka lebih merasa nyaman untuk menjadi pekerja di perusahaan-perusahaan asing dibandingkan menjadi entrepreneur”. Kata Wagub.

Dalam acara yang juga dihadiri oleh Bupati/Wako se-sumbar, skpd prov. Sumbar serta civitas akademika bung hatta tersebut, rector Universitas Bung Hatta , Niki Lukviarman, SE, Akt, MBA menyampaikan bahwa saat ini telah memiliki 7 fakultas dengan 25 program studi yang telah terakreditasi, dan terus mengalami perkembangan yang baik di bidang sarana dan prasarana.

Disampaikannya juga bahwa pada tanggal 22 april 2013 ini, telah diluncurkan pula pembukaan konsentrasi Manajemen Resiko Bencana pada prodi Tekhnik Sipil. Pada tahun-tahun kedepan diharapkan Universitas Bung Hatta akan dapat kembali menambah prodi disetiap fakultas , baik itu program magister ataupun program sarjana seiring dengan kebutuhan pasar kerja dengan tetap berpedoman pada rencana Induk Pengembangan (RIP) Universitas Bung Hatta.

Rabu, 17 April 2013

Reformasi Birokrasi, Sebuah Keharusan



Oleh: H. Muslim Kasim
(Wakil Gubernur Sumbar)


Birokrasi sering dianggap hanya sebagai benalu. Dan anggapan itu tidak perlu ditanggapi dengan amarah oleh para birokrat, apabila alasan yang menuduh seperti itu adalah lantaran rendahnya kinerja serta lebih bersifat ambtenaar ketimbang jadi civil servant.

Selama periode birokrasi sebelum reformasi, memang tak bisa disangkal bahwa birokrasi kita sering dianggap ibarat lembaga yang memuat labirin tak berujung. Liku-liku birokrasi yang mesti dilewati oleh masyarakat yang hendak berurusan sering membuat stress.

Sebutlah ketika rakyat harus mengurus perizinan, sulitnya minta ampun. Bahkan ada script writers iklan yang dibuat sengeja menyindir birokrasi kita : “Kalau bisa dipersulit kenapa
harus dipermudah?”

Akibatnya timbul resistensi dari masyarakat terhadap birokrasi. Masyarakat jadi tidak percaya dengan birokrasi. Bahkan birokrasi berubah di mata rakyat menjadi common enemy atau musuh bersama yang mesti dilenyapkan.

Padahal itu adalah semangat yang keliru. Tanpa birokrasi, negara tidak bisa diurus. Artinya birokrasi adalah instrumen penting dalam tata kelola negara. Masalahnya adalah bagaimana membuat birokrasi berjalan ideal sebagaimana diteorikan bahwa birokrasi itu melayani b ukan dilayani.

Yang terjadi adalah birokrasi selama bertahun-tahun di Indonesia –temasuk juga di Sumatera Barat—memang minta dilayani. Mental birokrasi kita bukan mental melayani tetapi adalah mental ambtenaar.

Saya termasuk yang percaya dengan pendapat bahwa birokrasi yang baik adalah birokrasi yang berorientasi pelayanan, bukan berorientasi jabatan apalagi berorientasi uang. Latar belakang saya yang lama bekerja di lingkungan lembaga non-departemen seperti Bulog, maka ketika saya masuk ke lingkungan birokrasi pemerintahan umum saya sempat kaget.

Ternyata kebiasaan di BUMN dan swasta yang mesti bergerak cepat, bekerja dengan target-target, ketika saya masuk birokrasi hal itu masih sangat sulit diterapkan. Ini lantaran selama bertahun-tahun budaya atau kultur birokrat kita memang tidak diorientasikan bekerja dengan high speed, bekerja dengan target, sistem yang jelas dan tata nilai yang juga mendekati ideal.

Secara kuantitatif birokrasi kita memang berat dan gemuk. Tahun 1980 ada sekitar 2 juta pegawai negeri di Indonesia. Ketika itu penduduk Indonesia masih pada angka 180 juta. Kini tahun 2012, jumlah PNS mencapai 4,7 juta, lebih dari dua kali lipat dari kondisi 22 tahun yang silam.

Dengan jumlah yang besar itu semestinya segala hal yang membutuhkan high speed dalam pekerjaan bisa menjawab masalah. Tapi yang terjadi, justru semakin banyak jumlah PNS semakin lamban kerjanya dan semakin rendah kinerja. Sebaliknya anggaran yang disediakan untuk PNS juga semakin besar. Tuntutan kenaikan gaji yang tiap tahun mesti dinaikkan oleh pemerintah. Maka sering APBD satu daerah lebih besar belanja pegawainya daripada belanja publik.

Saya melihat persoalannya selain pada sistem, juga pada mental dan budaya. Sistem yang ada belum memdai untuk mengatur birokrasi kita. Pada tingkat suprastruktur belum lengkap aturan yang disediakan untuk memayungi tatakerja birokrasi kita.

Lalu soal budaya, juga merupakan faktor yang memperlambat gerak birokrasi. Budaya menunggu, ABS, tidak kreatif, hanya menjalankan perintah tanpa adanya inisiatif alias budaya pahek sangat menonjol di kalangan birokrasi.

Kesemuanya itu menjadi alasan kenapa mesti dilaksanakan reformasi birokrasi. Kantor Kementerian Negara Pendayagunaan Apartur Negara juga sudah menyusun formula yang kini mulai dijalankan untuk memulai reformasi ini.

Melaksanakan reformasi birokrasi bukan kehendak para kepala daerah atau menteri saja, melainkan amanat konstitusi. Sebagaimana Undang-undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025, mengamanatkan bahwa pembangunan aparatur negara dilakukan melalui reformasi birokrasi untuk mendukung keberhasilan pembangunan bidang lainnya. Sebagai wujud komitmen nasional untuk melakukan reformasi birokrasi, pemerintah telah menetapkan reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan menjadi prioritas utama dalam Perpres Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010.

Lalu agar tidak rancu, saya ingin menjelaskan apa dan bagaimana sesungguhnya reformasi birokrasi itu. Yang dimaksud dengan reformasi birokrasi adalah, perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia.

Seperti diuraikan di atas, bagaimana birokrasi ini bisa dijalankan dengan semangat yang lebih modern yang berciri, efektif, efisien, akuntable, pro-rakyat, demokratis, bersih, bebas KKN dan berbasis kinerja. Dengan demikian birokrasi bekerja dengan meninggalkan cara-cara lama yang cenderung lamban, korup dan sarat kepentingan pribadi dan kelompok.

Jadi, dengan demikian reformasi birokrasi yang kini sedang dijalankan adalah pekerjaan yang hasilnya kelak akan kita lihat belakang hari. Ini adalah pertaruhan besar kita menghadapi masa depan bangsa.

Reformasi birokrasi juga sekaligus memberikan ruang yang lebih luas kepada pelaksanaan merit system. Sebab di situ yang diunjuk adalah kemapuan dan kompetensi serta kreatifitas para birokrat.

Saya ingin ambil contoh, apabila sebuah kebijaksanaan hendak diambil dengan mempertemukan berbagai pimpinan SKPD dalam tempo singkat. Pada alam birokrasi masa lalu, mungkin diperlukan dulu telaah staf menyusun anggaran dan program, lalu atas membuat disposisi untuk segera dilaksanakan. Setelah itu panitia dibentuk, anggaran diajukan. Yang lain mungkin mencetak undangan lalu menyebarkannya kepada para Kepala SKPD. Beberapa hari kemudian baru dilaksanakan rapat.

Sedangkan pada alam yang baru, kecenderungan birokrasi yang modern adalah bergerak cepat. Bisa saja rapat itu dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi informatika seperti teleconference. Dengan itu, tidak diperlukan biaya ekstra, mobilitas, alat tulis  dan biaya perjalanan dinas.

Dengan syarat dan ketentuan berlaku (infrastruktur tersedia dan aparatur juga sudah dilatih) saya bisa saja melakukan pertemuan rutin evaluasi melalui internet dengan para kepala SKPD. Masalahnya adalah, belum semua Kepala SKPD care dengan penerapan dan implementasi teknologi informatika di kantornya masing-masing. Komputer dan internet sering dianggap adalah instrumen yang mesti dikendalikan oleh seorang operator.

Padahal, birokrasi modern TI harus menjadi bagian dari organisasi. Bagaimana mungkin mensosialisasikan KTP elektronik yang sangat berbasis komputer dan internet itu sementara Kepala SKPD dan Kepala Daerah tidak paham alias gaptek (gagap teknologi). Maka, upaya menerapkan reformasi birokrasi adalah pekerjaan yang menyeluruh yang menghendaki kesadaran umum dari semua aparatur untuk berubah. Sistem sudah disediakan oleh Kementerian PAN, tinggal bagaimana menerapkannya di daerah-daerah seperti di Sumatera Barat ini.

Ketika pemerintah menerapkan reformasi birokrasi (sebagai pilot project) di Kementerian Keuangan, Mahkamah Agung dan BPK pada 2006 yang lalu, di situ dapat kita raba bahwa sangat diperlukan ketauladanan. Lembaga-0lembaga yang jadi pilot projet itu adalah lembaga yang rawan dan berpotensi terjadinya praktik buruk birokrasi. Jadi wajarlah kalau pemerintah menunjuk ketiga lembaga itu sebagai pilot project.

Sedangkan Peraturan Presiden No.81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 dan Permenpan-rb No. 20 Tahun 2010 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2010-2014 adalah tindak lanjut dari hal tersebut.

Lalu agar pelaksanaannya di daerah-daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota ini terus dipantau diterbitkan Permenpanrb No. 1 Tahun 2012 tentang Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi.

Setidaknya ada sembilan hal yang mesti dilakukan untuk percepatan reformasi birokrasi di daerah, termasuk di Sumatera Barat. Antara lain, penataan struktur birokrasi, penataan jumlah maupun distribusi dan kualitas pegawai negeri sipil (PNS), sistem seleksi dan promosi secara terbuka, profesionalisme PNS, dan pengembangan sistem pemerintahan elektronik (e-government). Yang lain adalah penyederhanaan perizinan usaha, pelaporan harta kekayaan pegawai negeri, peningkatan kesejahteraan pegawai negeri, serta efisiensi penggunaan fasilitas, sarana dan prasarana kerja pegawai negeri.

Untuk Sumatera Barat sebagian sudah kita laksanakan, tinggal lagi bagaimana semua pihak bisa terus mengawal dan mengawasi pelaksanaannya. Pengawasan dari masyarakat dan media menjadi mutlak diperlukan agar benar-benar terujud reformasi birokrasi di daerah ini.***
 

SKPD Terkait Mesti Anggarkan Pembangunan Rumah Gadang, Sport Center, dan Rohana Kudus

Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sumatera Barat tahun 2010-2015, Pemerintah Provinsi dalam rangka melakukan percepatan pembangunan yang memberikan multiplayer effect serta dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat, maka perlu disepakati beberapa kegiatan yang diprioritaskan, seperti pembangunan Minang Ekpo yang sedang berlangsung pembangunannya. Hal ini sesuai dengan Nota Kesepatakatan tanggal 15 Februari 2013, yang juga telah didukung oleh DPRD Sumbar.
Ini disampaikan Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim yang didampingi kepala Biro Humas Irwan,S.Sos.MM diruang kerjanya Senin (15/4). Menurutnya,” Ada empat agenda bangunan yang diprioritaskan dalam mendukung RPJMD Sumbar tahun 2010-2015 ini, antara lain pembangunan Minang Ekpo, Rumah Gadang, Sport Center dan Gedung Rohana Kudus.
Untuk pembanguan Sport Centre, pembangunan Rumah Gadang dan penyelesaian Gedung Rohana Kudus para SKPD terkait agar menganggarkan untuk tahun 2014 ini.
Pembangunan Minang ekpo ini bertujuan untuk mempromosikan produk-produk unggulan ,pergelaran seni dan budaya, workshop, peluang investasi daerah dan temu usaha dengan melibatkan kabupaten/kota.” Melalui minang ekpo diharapkan dapat meningkatkan minat ibnvestasi pelaku usaha baik regional, nasional maupun internasional,”jelasnya.
Lebih lanjut Wagub menjelaskan, Sport center sendiri ditujukan sebagai pusat sarana pengembangan oalahraga di Sumbar ini, yang akan digunakan untuk event-event olahraga tingkat nasional serta internasional, seperti pon, sea games dan lainnya. Fasilitas sport centre antara lain trakc atletik yang meliputi Track atletik yang meliputi sarana perlombaan atletik yang akan digunakan untuk olahraga lari , lompat dan lempar.Sport center juga dilengkapi akan dengan kolam renang yag respentative berskala nasional dan internasional. “Dengan adanya sport center nantinya, setiap kegiatan-kegiatan olahraga baik dalam skala tingkat nasional serta internasional, seperti pon, sea games dan lainnya bisa menggunakan fasilitas dari sport center yang berskala internasional”, ucapnya
Untuk rencana Pembangunan rumah Gadang atau rumah bagonjong minangkabau sebagai rumah tradisional masyarakat sumatera barat, dengan khazanah keindahan arsitektur tradisional yang akan diperuntukan sebagai pusat sarana pengembangan budaya, sosial serta tempat rekreasi bagi masyarakat sumbar. "Rumah gadang ini kalau bisa dibangun bergandengan dengan Masjid Raya Sumatera Barat agar pelambangkan "tungku tigo sajarangan" jadi selaras kantor pemerintahan, Masjid raya dan juga rumah gadang. Tapi tidak tertutup kemungkinan jika rumah gadang dibangun di tempat yang persentatif seperti di dekat bandara internasional minangkabau misalnya. Rumah gadang ini berfungsi sebagai simbol kebudayaan minangkabau, walaupun di Tanah Datar sendiri sudah ada rumah gadang yang terdapat di Istano Pagaruyung, namun tentu fungsi dan peruntukan berbeda, tegasnya.
Penyelesaian pembangunan kembali atau renovasi Gedung rohana kudus yang rubuh akibat gempa dasyat yang menguncang Sumbar 30 September 2009 lalu yang berkekuatan 7,9 SR yang telah menyebabkan banyak bangunan yang mengalami rusak berat hingga rata dengan tanah dan juga rusak ringan. “Salah satunya yang mengalami kerusakan berat itu adalah gedung waniat rohana kudus yang merupakan icon gedung wanita Sumatera Barat, diharapkan jika gedung ini dibangun kembali atau direnovasi lagi maka akan dapat difungsikan sebagai gedung pertemuan yang ada”tambahnya.
Semuanya akan kita prioritaskan untuk pelaksanaan RPJMD Sumbar tahun 2010-2015 dan akan segera ditindaklanjuti dalam APBD provinsi Sumatera barat tahun 2014 sesuai dengan kemampuan daerah, kesepakatan ini juga didukung oleh DPRD Sumbar,”terang wagub.

Wagub Muslim Kasim Tinjua Pelaksanaan UN di Padang


Wakil Gubernur Muslim Melakukan peninjauan pelaksanaan UN tingkat SLTA . Wagub Muslim Kasim bersama Ketua UN Sumbar Rektor Unand Dr. Wery Darta Taifur, Kadis Pendidikan Drs. Syamsurizal,MM, Kepala Biro Humas Irwan, S.Sos,MM, Sekdako Padang serta beberapa pejabat SKPD dilingkungan Kota Padang.

Muslim Kasim dalam kesempatan tersebut menyampaikan, persoalan kekurangan soal telah dapat diatasi oleh Tim UN Sumbar dengan memfotocopy dengan juga dikawal oleh pihak kepolisian untuk menjaga keamanan soal.
Saat ini diketahui ada 42 sekolah yang tidak cukup jumlah soal, jika ada sekolah yang jadwalnya terundur tentu ini kebijakan yang baik, agar semua siswa mendapatkan haknya untuk ujian sebagai syarat lulus dalam pendidikan tingkat SLTA, katanya

Muslim Kasim juga menyampaikan, secara pasti target sekolah, guru, murid dan orang tua murid tentunya lulus 100 persen, tapi pemprov. lebih fokus pada target bagaimana anak-anak kita itu tebanyak lulus pada perguruan tinggi negeri.
oleh karena itu setiap kita selalu memberikan motivasi dan semangat kepada anak-anak kita untuk berbuat, belajar sebaik mungkin meraih prestasi nilai yang mampu bersaing dalam meraih tempat di berbagai perguruan tinggi terbaik, harapnya.

Peserta UN tingkat SLTA/MA di Sumbar untuk tahun 2013 ini sebanyak 49.026 orang, untuk tingkat SLTP/ Mts sebanyak 83.715 orang dan untuk tingkat SD/MI sebanyak 101.816 orang.

Selasa, 28 Februari 2012

Hikmah di Balik Musibah Pasaman/ Catatan Muslim Kasim (Wagub Sumbar)


Bila Tuhan berkehendak, tak ada yang tak mungkin. Tak akan terjadi sesuatu tanpa ridho dan restuNya. Untuk itu, tak usah takut tak usah gentar, Tuhan Allah bersama kita. senyampangpun negeri kita yang elok ini ternyata adalah negeri dalam kumpulan potensi bencana, hal demikian itu tak perlu kita cemaskan benar. Yang perlu kita lakukan adalah menyiapkan diri menghadapi kejadian seburuk apapun juga. Saat itu, kearifan lokal, dan buadaya siaga bencana harus kita tanamkan dalam kehidupan sosial masyarakat kita. Usah bencana mengundang gelisah. Usah bencana membuat langkah kita dalam menata kehidupan ini menjadi tertatih-tatih. Pada tiap apa yang terjadi, pasti ada hikmah di balik sana.

Kita mengetahui bahwa lebih dari 75 % negeri di Sumatera Barat terhampar di punggung, dan di kaki bukit barisan. Berada di posisi ini, longsor mengancam kita. Lalu, di negeri kita yang mempesona ini melintang sungai-sungai besar dari berbagai hulu di atas bukit barisan. Membujurnya sungai, tak bisa dilepaskan ancaman banjir menjadi potensi yang dapat mengancam kita kapan saja. Kemudian, di Barat, Samudera membentang luas. Laut biru, sunset yang indah, dan nun jauh di dasar lautan itu tergaris patahan bumi yang mengancam negeri kita bergoyang dalam bencana gempa. Tidak di laut, tidak di gunung, tidak di dataran luas, di mana-mana bencana bisa saja terjadi. Bila tak longsor, gempa.Bila tak gempa, puting beliung menyabung mengirimkan kabar-kabar duka.

Sekali lagi, itu tak perlu kita risaukan. bagaimanapun juga, persoalan terberat dari manusia adalah kematian. Siap tidak siap, kita harus mati. Sementangpun begitu, negeri kita yang disebut-sebut sebagai etalase bencana, harus kita siapkan sebagai negeri yang rakyatnya senantiasa waspada dari segala ancaman dan marabahaya dari amuk alam yang tiada terkira. Siaga bencana mesti kita tanamkan sejak dini. Dari anak-anak, dari usia dini itu, sudah kita berikan pendidikan atau pengetahuan tentang kebencanaan. Dan kita siapkan ketangguhan mental mereka dalam menghadapi setiap detik kemungkinan bencana yang bisa saja menimpa.
           belajar kita sampai ke negeri Sakura. Negeri jepang adalah negeri yang sangat akrab dengan bencana gempa. Sejak usia dini, Jepang menyiapkan mental anak generasinya dalam menghadapi bencana gempa. Kabar potensi bencana, kepada anak-anak kita, kita sampaikan sebagai bahan pengetahuan bagi mereka, bukan sebagai kabar yang menakutkan hati mereka. Kita khawatir, jika "pendidikan dan pengetahuan" kebencanaan tidak kita lakukan sejak dini, maka apa yanbg kita cemaskan---yakni negeri ini akan melahirkan generasi muda yang penggamang dalam kehidupan dan hilangnya rasa kepercayaan diri yang berlebihan. sehingga, mereka juga sekaligus kehilangan karakter. Bila ini terjadi, alamat betapa gelapnya Sumatera Barat puluhan tahun ke depan.

Rabu malam lalu itu, saya diberi kabar. Dalam dukanya, Pak Bupati Pasaman (Benny) memberi kabar isak pada saya tentang derita rakyatnya dalam bencana manakala air bah dari Bukit Ambacang mengirimkan petaka yang menimbun dan menghanyutkan rumah masyarakat Nagari Simpang kecamatan Simpang Alahan Mati ( Simpanti) Kabupaten Pasaman. " Air itu datang mendadak. Puluhan rumah masyarakat rusak berat, Bang (begitu benny menyapa saya). Sykur alhamdulillah, tak ada korban jiwa. Tapi, sawah ladang masyarakat porak poranda", begitu Benny memberi kabar pada saya. Bersama-sama dengan Pak Gubernur, kami melakukan instruksi ke berbagai pihak terkait untuk melakukan penanggulangan pasca bencana, biar beban masyarakat korban bencana menjadi ringan. Kita inginkan sebuah penanggulangan yang sistimatis dan terpadu dalam konsep "kaba baik baimbauan, kaba buruk bahambauan, barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, sasakik kito sasanang, baban barek kito ringankan, aia mato jatuah kito hapuih jo raso, tangih indak ka mamakiak, sakik indak ka mangaluah'...begitulah, syukur alhamdulillah, mulai dari pemerintah propinsi hingga pemerintah kota dan kabupaten di Sumbar ikut turun membantu guna meringankan beban masyarakat. Sykur alhamdulillah, ternyata kebersamaan itu masih membudaya di tengah dinamika kehidupan yang makin keras dan tajam ini.

Minggu sehabis solat Subuh itu, sebelum menuju lokasi, sekali lagi saya berdoa kepada Tuhan, semoga masyarakat Simpang Pasaman itu diberi kesabaran, ketabahan dan keikhlasan. Dan, semoga kita dapat meringankan beban berat mereka yang sudah kehilangan harta benda, sawah ladang dan mata pencaharian. Saya selalu memesankan kepada masyarakat korban bencana , bahwa manakala kita kehilangan, pasti ada hikmah di balik itu semua. Bukankah harta Allah, milik Allah akan kembali kepada Allah. Dalam petaka menimpa, tak ada kata lain selain lafaz Innalillahi Wainnailaihi Roji'un. Dan pada sisi lain, harta benda boleh saja hilang, namun satu yang tidak boleh lenyap di dada, yakni iman!

Minggu siang, saya beserta beberapa pejabat propinsi terkait seperti Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumbar, Pak Yazid, Kepala Dinas Pertanian Jonny, Kepala Dinas Sosial Gaffar, Kepala Dinas PSDA Ali Musri dll sampai di lokasi bencana.

Inalillahi wainna ilaihi roji'un.
Indahnya gunung dari kejauhan, adalah terjemahan mata. Gunung, pasti berimba, bersemak belukar, berduri dan lain sbagainya. dan siapa sangka dari puncak Bukik Ambacang itu, yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari nagari Simpang tersimpang "wabah" bencana. Dalam riwayat apapun jua, di atas bukit itu tak ada telaga. Tak ada. Tapi mengapa air mengucur dan meluncur begitu sangat banyaknya? Padahal, ulu sungai batang buluh yang meretas negeri itu tak berhulu dari atas bukit itu. Apakah itu karena kita terlalu acap "menyakiti" alam, dan ketika alam "muntah" kita terpekik?

Menyaksikan kecentangperenangan nagari Simpang, saya terhening dalam kalimat ilahi. Negeri hijau itu kini menjadi negeri dalam kubangan lumpur dan kayu-kayu gelondongan yang menua yang tercerabut dari urat akarnya. Dan sebagian tampak seperti kayu bekas dikerat-kerat.Ada apa pula ini?

Seorang lelaki, M Nasir namanya. Usianya sekitar 56 tahun. Ia korban yang nyaris hanyut. Lekaki ini bercerita pada saya...Bertutur itu lelaki pada saya, katanya sore itu ia usai melaksanakan solat ashar. Sudah solat, ia mengubak pinang. Nasir mendengar orang menjerit histeris. Orang heboh. " Aia...aia gadang...ondeh aia hoi!" begitu teriak orang panik di desa yang damai ini.

"Sebelumnya saya tidak cemas-cemas benar, Pak.Air datang dari sungai bergulung-gulung setinggi satu meter, itu adalah biasa bagi kami di sini", kata Nasir pada saya. Tampak bibirnya bergetar; " tapi, sekitar 15 menit atau 12 menit setelah lidah air pertama datang itu, saya melihat dan mendengar dari kejauhan bunyi gaung yang merindingkan. Ini yang membuat saya harus lari. Jarak rumah saya dariu sungai itu hanya beberapa meter. Saya teriak-teriak pada anak dan cucu supaya lekas mencari tempat tinggi. Dan saya ingat, kabau sadang tapauik. Saya kejar bantiang itu. Tak lama saya mengirik kerbau ke tempat yang lebih tinggi, air datang bagaikan tsunami yang cukup tinggi, berkisar atara 5 hingga enam meter.Dan saya melihat air menyapu ganas rumah-rumah penduduk yang sudah berlarian mencari tempat tinggi di gerimis yang mencucuk hati karena diiringi dengan pekik panik kami", tutur Nasir.

Saya mendengar Nasir, dan membayangkan betapa mencekamnya keadaan. Tapi, syukur alhamdulillah, korban jiwa tak ada. Dan itu berarti, kearifan alam masyarakat kita sangat baik. " Pak Nasir, sabar ya. tabah. Rumah runtuh dapat didirikan. Harta hilang dapat dicari. Yang penting Pak Nasir dan keluarga selamat. Nanti, bersama-sama kita kembali menata kehidupan masyarakat yang mau tak mau harus memulai kembali dari nol. Dan dengan semnagat dan iman, kita bangun kembali desa ini", kata saya pada Nasir dan beberapa korban bencana di sana.

Suatu ketika, saya melihat rumah yang atapnya sudah terkapar di tanah. Rumah itu bagaikan puing di tengah lumpur dan kayu-kayu besar. Ternyata rumah itu milik seorang ibu, Idah namanya.Usianya 52 tahun. Saya menyalami ibu Idah.Ibu bermuka sabak itu tampaknya masih trauma." Rusak jantung hati ini Pak bila teringat kembali musibah air bah itu", Idah membuka fakta pada saya.
     Katanya, kala itu ia terjebak dalam rumah. Orang sudah berteriak "aia...aia...hoi....lari-lari"
, namun ia telat. Ia telanjur dikurung air gadang. " Saya melihat, rumah saya sudah berdarak-darak dihantam air dan kayu gelondongan. Saya pijak jenjang, jenjang hanyut. Saya terus memanjat ke atas, air makin menjilat kaki saya. Dengan keyakinan untuk hidup, saya berhasil memanjat atap loteng. Di bawah saya lihat air dengan leluasa menerjang apa yang menghalang. Saya juga melihat, betapa ganasnya air yang datang menyambar. Saya menggigil ketakutan", ujar Idah yang sempat berhatah hingga satu jam air surut.

" Air susut, saya berteriak-teriak minta tolong.Semua menjadi gelap. Sampai habis suara saya, teriak makin saya ajan makin nkecil kedengarannya. Lalu kemudian, beberapa orang masyarakat menemukan saya sedang di atap. Mereka membopong saya. Mau mati rasanya badan. Biarlah harta benda hilang, tapi saya bersykur masih diberi Tuhan kehidupan. Tak ada barang yang dapat saya selamatkan, selain baju yang melekat di badan ini", tutur Idah.

Idah juga mengungkapkan kekecewaannya karena, ternyata ada orang yang tak menjadi korban, juga ---tanpa rasa malu---ikut menerima bantuan. " Mereka mendapat di atas derita kami", lirih Idah. Dalam pada itu, saya pesankan kepada "tim" supaya apapun bentuk bantuannya harus cepat dan tepat sasaran!

Melihat wajah-wajah sabak, wajah-wajah kehilangan, perasaan mana yang tahan akan pandangan begitu? Mau tidak mau, lingkungan Nagari Simpang menjadi rusak. Sungai mendangkal.tertimbun lumpur dan pepohonan. Sawah ladang dan irigasi centang perenang.Tidak berketentuan. Jalan bagaikan kertas cabik.Rongkas. Saya kembali instruksikan kepada Kepala PSDA Ali Musri supaya selekasnya dilakukan normalisasi sungai. Tampaknya Ali Musri ditantang untuk sigap.  Kepada dinas Pertanian, saya pintakan agar kembali menata ruang-ruang pertanian yang rusak itu. Syukur alhamdulillah, Jonny, kepala dinasnya cepat menanggapi dengan  melakukan pertemuan kilat dengan sejumlah kelompok tani dan jajaran pertanian kabupaten Pasaman. Begitu juga dengan Dinas Sosial, kepada Pak Gaffar, kadisnya, saya garis bawahi benar supaya distribusikan bantuan dengan cepat dan tepat sasaran. Jangan sampai, bantuan salah alamat yang tak tiba pada yang seharusnya mendapat.

Saya beri apresiasi plus kepada Pak Bupati Benny yang tampaknya bekerja dengan sangat maksimal dan melakukan kordinasi dengan sangat baik dengan jajaran-jajaran terkait. Tampak benar kesungguhan Pak Bupati dalam meringankan beban rakyatnya yang sedang menimpa musibah. Adalah sebuah sikap yang sangat amanah dan bijaksana  manakala dalam derita, dalam gelisah, pemimpin senantiasa berada di tengah masyarakat dan tak meninggalkkan masyarakatnya dalam bancah bencana. Dan itu telah diulakukan Benny dengan selalu ada dan berada untuk masyarakatnya, baik dalam susah maupun dalam senang.

Soal jalan yang porak poranda, tentu kita bangun kembali. Kita berharap masyarakat Nagari Simpang lekas bangkit dari himpitan musibah. Dan sebuah musibah tak harus membuat kita patah atau rebah, tapi membuat kita tersadar untuk lekas bangkit dan berdiri dari segala keterpurukan. Dan, kita akan tetap dan selalu bersama masyarakat(MK)

Minggu, 26 Februari 2012

Wagub Muslim Kasim : Teruslah lakukan Evaluasi dalam Upaya Penanggulangan Bencana


Lakukan evaluasi terus  menerus, dalam mengambil langkah-langkah yang tepat sesuai dengan kondisi daerah, dalam penanggulangan bencana di Pasaman ini. Ini pesan Gubernur Sumbar yang disampaikan kepada kami.
Ini disampaikan Wakil Gubernur Muslim Kasim, saat memberikan sambutan pada kunjungan ke lokasi bencana Kecamatan Alahan Mati ( Simpati). Hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Benni Utama, Wakil Bupati Dahnel, Kadis Kehutanan, Kadis Pertanian, Kadis Perkebunan, Kadis PSDA, Kadis Ketahanan Pangan, Kadis Sosial, Kadis Kesehatan, Ka. BPBD.
Lebih Jauh Muslim Kasim menyampaikan, himbauan pak Gubernur ini, agar tidak ada yang salah dalam pernanggulangan bencana. Kita amat bersyukur adanya kearifan local dimana, hingga sampai saat ini tidak ada korban jiwa.
Sesungguhnya kejadian di Pasaman ini lebih dahsyat dari pada Wasior. Namun masyarakat kita dapat mengatasinya dengan baik, sehingga dapat selamat dari terjangan galodo tersebut. Untuk itu kearifan local ini mesti terus kita pelihara dengan baik, sebagai ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, ujarnya
Muslim Kasim juga menyampaikan kunjungan yang dihadiri dengan Kadis Teknis ini merupakan keseriusan Pemprov Sumbar membantu penanggulangan bencana di Pasaman ini. Ada bantuan beras 5 ton selama seminggu, Namun secara umum kita patut memberikan apresiasi terhadap ketangapan Bupati dalam penanggulangan bencana didaerah ini.
Selain itu Penganggaran penanggulangan pangan 100 Juta. Irigasi kecil dari dinas pertanian,  dengan bibit padi 1,5 ton. Serta dari dinas social yang memberikan bantuan yang besifat selimut, peralatan dapur dan lain-lain. Bantuan tentu akan terus menerus mengalir, dahulukan kepentingan masyarakat, sehingga bantuan tersebut benar-benar bermanfaat dan membantu untuk kembali bangkit, hidup normal, katanya
Bupati Benni Utama dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan. kebencanaan ini memberikan sebuah perhatian, bahwa kearifan local telah dapat menyelamatkan masyarakat, sehingga sampai saat ini tidak ada korban jiwa.
Mudah-mudahan ini menjadi kekuatan bagi masyarakat kami untuk bangkit kembali menata hidupnya. Kami telah tetapkan masa tanggap darurat selama dua minggu, jika belum dapat dilakukan secara maksimal kita bias memperpanjang masa tanggap darurat. Semua ini adalah untuk kesejahteraan masyarakat di daerah ini.
Kami atas nama masyarakat Pasaman menyampaikan ungkapan terima kasih atas semua perhatian dan bantuan yang dating dari berbagai pihak dilokasi bencana ini, mudah-mudah menjadi amalan yang baik bagi kita semua.
Wagub Muslim dan rombongan juga melakukan kunjungan kelapangan yang terparah, terkena dampak bencana galodo tersebut.
( HUmas Sumbar )

Kepala BNPB Pusat Kunjungi Pasca Kebakaran Kopas Plaza Padang

Padang (Sumbar)------Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat Syamsul Ma’arif melihat langsung pasca kebakaran Kopar Plaza Pasar Raya Kota Padang, Rabu (22/2). Kebakaran yang terjadi Senen (20/2) lalu yang mengkibatkan 35 petak toko musnah di lalap sijago merah dengan taksiran kerugian Rp.9 miliar.
Ikut mendampingi kunjungan tersebut Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim, Walikota Padang Fauzi Bahar, Wakil Walikota Padang, Mahyeldi Ansyarullah
Dikatakan Syamsul Ma’arif di sela-sela kunjungannya, kebakaran belum termasuk lingkup bencana ini musibah. Sebagai cerminan kebetulan BNPB juga membantu kerusakan pasar akibat gempa 2009 lalu . BNPB tidak menyampaikan bagaimana mengatasi kebakaran ini. Setingnya juga bagus mobilnya bisa masuk, selang air dapat maksimal bekerja dengan baik, tetapi kalau ada yang kekurangan masker tentu mestinya BNPB.
Tetapi Pasar Raya (inpres) yang di bantu sebelumnyan Insya Allah telah disaign lebih bagus dengan ahlinya bersama Pemko Kota padang. Tetapi pasar- pasar termasuk pasar tradisional secara marginalnya dapat kita ketahui cuman tentu jangan sampai menyimpan bahan kimia yang tidak terlindungi dengna baik , namun perlu juga pengecekan aliran listrik itupun memang ada usianya.
Ditegaskan, pedagang pasar juga perlu latihan karena bagaimanapun kebakaran itu sekali terbakar maka ludes semuanya dan bahkan kematian serta kerugian, tentu perlu penangganan yang terskema dengan baik menurut kebencaan, perlu upaya metigasi.
Apa ada bantuan BNPB untuk pedagang disampaikan Syamsul Ma’arif masih kita pikirkan. Masalah kebakaran rutin terjadi di mana mana, harapan kedepanya , disampaikan Kepala BNPB Pusat masalah kebakaran masih dibawah Kemendagri , BNPB belum punya dana khusus untuk musibah kebakaran
Menyingung akhir- akhir ini gunung merapi rawan terjadinya bencana, BNPB menghargai Pemerintah Daerah  sudah melakukan persiapan rencana kontigensi menghadapi bencana, kontigensi itu perlu bagaimana masyarakat dilatih menghadapi bencana kalau terjadi. Sehinga rencana kontigensi perlu diaktifkan menjadi rencana operasional. Ungkapnya. ( Relis Ro Humas Sbr )