Bila Tuhan berkehendak, tak ada yang tak mungkin. Tak akan terjadi
sesuatu tanpa ridho dan restuNya. Untuk itu, tak usah takut tak usah
gentar, Tuhan Allah bersama kita. senyampangpun negeri kita yang elok
ini ternyata adalah negeri dalam kumpulan potensi bencana, hal demikian
itu tak perlu kita cemaskan benar. Yang perlu kita lakukan adalah
menyiapkan diri menghadapi kejadian seburuk apapun juga. Saat itu,
kearifan lokal, dan buadaya siaga bencana harus kita tanamkan dalam
kehidupan sosial masyarakat kita. Usah bencana mengundang gelisah. Usah
bencana membuat langkah kita dalam menata kehidupan ini menjadi
tertatih-tatih. Pada tiap apa yang terjadi, pasti ada hikmah di balik
sana.
Kita mengetahui bahwa lebih dari 75 %
negeri di Sumatera Barat terhampar di punggung, dan di kaki bukit
barisan. Berada di posisi ini, longsor mengancam kita. Lalu, di negeri
kita yang mempesona ini melintang sungai-sungai besar dari berbagai hulu
di atas bukit barisan. Membujurnya sungai, tak bisa dilepaskan ancaman
banjir menjadi potensi yang dapat mengancam kita kapan saja. Kemudian,
di Barat, Samudera membentang luas. Laut biru, sunset yang indah, dan
nun jauh di dasar lautan itu tergaris patahan bumi yang mengancam negeri
kita bergoyang dalam bencana gempa. Tidak di laut, tidak di gunung,
tidak di dataran luas, di mana-mana bencana bisa saja terjadi. Bila tak
longsor, gempa.Bila tak gempa, puting beliung menyabung mengirimkan
kabar-kabar duka.
Sekali lagi, itu tak perlu kita
risaukan. bagaimanapun juga, persoalan terberat dari manusia adalah
kematian. Siap tidak siap, kita harus mati. Sementangpun begitu, negeri
kita yang disebut-sebut sebagai etalase bencana, harus kita siapkan
sebagai negeri yang rakyatnya senantiasa waspada dari segala ancaman dan
marabahaya dari amuk alam yang tiada terkira. Siaga bencana mesti kita
tanamkan sejak dini. Dari anak-anak, dari usia dini itu, sudah kita
berikan pendidikan atau pengetahuan tentang kebencanaan. Dan kita
siapkan ketangguhan mental mereka dalam menghadapi setiap detik
kemungkinan bencana yang bisa saja menimpa.
belajar
kita sampai ke negeri Sakura. Negeri jepang adalah negeri yang sangat
akrab dengan bencana gempa. Sejak usia dini, Jepang menyiapkan mental
anak generasinya dalam menghadapi bencana gempa. Kabar potensi bencana,
kepada anak-anak kita, kita sampaikan sebagai bahan pengetahuan bagi
mereka, bukan sebagai kabar yang menakutkan hati mereka. Kita khawatir,
jika "pendidikan dan pengetahuan" kebencanaan tidak kita lakukan sejak
dini, maka apa yanbg kita cemaskan---yakni negeri ini akan melahirkan
generasi muda yang penggamang dalam kehidupan dan hilangnya rasa
kepercayaan diri yang berlebihan. sehingga, mereka juga sekaligus
kehilangan karakter. Bila ini terjadi, alamat betapa gelapnya Sumatera
Barat puluhan tahun ke depan.
Rabu malam lalu itu, saya diberi kabar. Dalam dukanya, Pak Bupati
Pasaman (Benny) memberi kabar isak pada saya tentang derita rakyatnya
dalam bencana manakala air bah dari Bukit Ambacang mengirimkan petaka
yang menimbun dan menghanyutkan rumah masyarakat Nagari Simpang
kecamatan Simpang Alahan Mati ( Simpanti) Kabupaten Pasaman. " Air itu
datang mendadak. Puluhan rumah masyarakat rusak berat, Bang (begitu
benny menyapa saya). Sykur alhamdulillah, tak ada korban jiwa. Tapi,
sawah ladang masyarakat porak poranda", begitu Benny memberi kabar pada
saya. Bersama-sama dengan Pak Gubernur, kami melakukan instruksi ke
berbagai pihak terkait untuk melakukan penanggulangan pasca bencana,
biar beban masyarakat korban bencana menjadi ringan. Kita inginkan
sebuah penanggulangan yang sistimatis dan terpadu dalam konsep "kaba
baik baimbauan, kaba buruk bahambauan, barek samo dipikua, ringan samo
dijinjiang, sasakik kito sasanang, baban barek kito ringankan, aia mato
jatuah kito hapuih jo raso, tangih indak ka mamakiak, sakik indak ka
mangaluah'...begitulah, syukur alhamdulillah, mulai dari pemerintah
propinsi hingga pemerintah kota dan kabupaten di Sumbar ikut turun
membantu guna meringankan beban masyarakat. Sykur alhamdulillah,
ternyata kebersamaan itu masih membudaya di tengah dinamika kehidupan
yang makin keras dan tajam ini.
Minggu sehabis
solat Subuh itu, sebelum menuju lokasi, sekali lagi saya berdoa kepada
Tuhan, semoga masyarakat Simpang Pasaman itu diberi kesabaran, ketabahan
dan keikhlasan. Dan, semoga kita dapat meringankan beban berat mereka
yang sudah kehilangan harta benda, sawah ladang dan mata pencaharian.
Saya selalu memesankan kepada masyarakat korban bencana , bahwa manakala
kita kehilangan, pasti ada hikmah di balik itu semua. Bukankah harta
Allah, milik Allah akan kembali kepada Allah. Dalam petaka menimpa, tak
ada kata lain selain lafaz Innalillahi Wainnailaihi Roji'un. Dan pada
sisi lain, harta benda boleh saja hilang, namun satu yang tidak boleh
lenyap di dada, yakni iman!
Minggu siang, saya beserta
beberapa pejabat propinsi terkait seperti Kepala Badan Penanggulangan
Bencana Daerah Sumbar, Pak Yazid, Kepala Dinas Pertanian Jonny, Kepala
Dinas Sosial Gaffar, Kepala Dinas PSDA Ali Musri dll sampai di lokasi
bencana.
Inalillahi wainna ilaihi roji'un.
Indahnya gunung dari kejauhan, adalah terjemahan mata. Gunung, pasti
berimba, bersemak belukar, berduri dan lain sbagainya. dan siapa sangka
dari puncak Bukik Ambacang itu, yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari
nagari Simpang tersimpang "wabah" bencana. Dalam riwayat apapun jua, di
atas bukit itu tak ada telaga. Tak ada. Tapi mengapa air mengucur dan
meluncur begitu sangat banyaknya? Padahal, ulu sungai batang buluh yang
meretas negeri itu tak berhulu dari atas bukit itu. Apakah itu karena
kita terlalu acap "menyakiti" alam, dan ketika alam "muntah" kita
terpekik?
Menyaksikan kecentangperenangan nagari Simpang, saya terhening dalam kalimat ilahi. Negeri
hijau itu kini menjadi negeri dalam kubangan lumpur dan kayu-kayu
gelondongan yang menua yang tercerabut dari urat akarnya. Dan sebagian
tampak seperti kayu bekas dikerat-kerat.Ada apa pula ini?
Seorang lelaki, M Nasir namanya. Usianya sekitar 56 tahun. Ia korban
yang nyaris hanyut. Lekaki ini bercerita pada saya...Bertutur itu lelaki pada saya, katanya sore itu ia usai melaksanakan
solat ashar. Sudah solat, ia mengubak pinang. Nasir mendengar orang
menjerit histeris. Orang heboh. " Aia...aia gadang...ondeh aia hoi!"
begitu teriak orang panik di desa yang damai ini.
"Sebelumnya saya tidak cemas-cemas benar, Pak.Air datang dari sungai
bergulung-gulung setinggi satu meter, itu adalah biasa bagi kami di
sini", kata Nasir pada saya. Tampak bibirnya bergetar; " tapi,
sekitar 15 menit atau 12 menit setelah lidah air pertama datang itu,
saya melihat dan mendengar dari kejauhan bunyi gaung yang merindingkan.
Ini yang membuat saya harus lari. Jarak rumah saya dariu sungai itu
hanya beberapa meter. Saya teriak-teriak pada anak dan cucu supaya lekas
mencari tempat tinggi. Dan saya ingat, kabau sadang tapauik. Saya kejar
bantiang itu. Tak lama saya mengirik kerbau ke tempat yang lebih
tinggi, air datang bagaikan tsunami yang cukup tinggi, berkisar atara 5
hingga enam meter.Dan saya melihat air menyapu ganas rumah-rumah
penduduk yang sudah berlarian mencari tempat tinggi di gerimis yang
mencucuk hati karena diiringi dengan pekik panik kami", tutur Nasir.
Saya mendengar Nasir, dan membayangkan betapa mencekamnya keadaan.
Tapi, syukur alhamdulillah, korban jiwa tak ada. Dan itu berarti,
kearifan alam masyarakat kita sangat baik. " Pak Nasir, sabar ya. tabah.
Rumah runtuh dapat didirikan. Harta hilang dapat dicari. Yang penting
Pak Nasir dan keluarga selamat. Nanti, bersama-sama kita kembali menata
kehidupan masyarakat yang mau tak mau harus memulai kembali dari nol.
Dan dengan semnagat dan iman, kita bangun kembali desa ini", kata saya
pada Nasir dan beberapa korban bencana di sana.
Suatu
ketika, saya melihat rumah yang atapnya sudah terkapar di tanah. Rumah
itu bagaikan puing di tengah lumpur dan kayu-kayu besar. Ternyata rumah
itu milik seorang ibu, Idah namanya.Usianya 52 tahun. Saya menyalami ibu Idah.Ibu bermuka sabak itu tampaknya masih trauma."
Rusak jantung hati ini Pak bila teringat kembali musibah air bah itu",
Idah membuka fakta pada saya.
Katanya, kala itu ia terjebak dalam rumah. Orang sudah berteriak "aia...aia...hoi....lari-lari"
,
namun ia telat. Ia telanjur dikurung air gadang. " Saya melihat, rumah
saya sudah berdarak-darak dihantam air dan kayu gelondongan. Saya pijak
jenjang, jenjang hanyut. Saya terus memanjat ke atas, air makin menjilat
kaki saya. Dengan keyakinan untuk hidup, saya berhasil memanjat atap
loteng. Di bawah saya lihat air dengan leluasa menerjang apa yang
menghalang. Saya juga melihat, betapa ganasnya air yang datang
menyambar. Saya menggigil ketakutan", ujar Idah yang sempat berhatah
hingga satu jam air surut.
" Air susut, saya
berteriak-teriak minta tolong.Semua menjadi gelap. Sampai habis suara
saya, teriak makin saya ajan makin nkecil kedengarannya. Lalu kemudian,
beberapa orang masyarakat menemukan saya sedang di atap. Mereka
membopong saya. Mau mati rasanya badan. Biarlah harta benda hilang, tapi
saya bersykur masih diberi Tuhan kehidupan. Tak ada barang yang dapat
saya selamatkan, selain baju yang melekat di badan ini", tutur Idah.
Idah juga mengungkapkan kekecewaannya karena, ternyata ada orang yang
tak menjadi korban, juga ---tanpa rasa malu---ikut menerima bantuan. "
Mereka mendapat di atas derita kami", lirih Idah. Dalam pada itu, saya
pesankan kepada "tim" supaya apapun bentuk bantuannya harus cepat dan
tepat sasaran!
Melihat wajah-wajah sabak, wajah-wajah kehilangan, perasaan mana yang tahan akan pandangan begitu? Mau tidak mau, lingkungan Nagari Simpang menjadi rusak. Sungai
mendangkal.tertimbun lumpur dan pepohonan. Sawah ladang dan irigasi
centang perenang.Tidak berketentuan. Jalan bagaikan kertas
cabik.Rongkas. Saya kembali instruksikan kepada Kepala PSDA Ali Musri
supaya selekasnya dilakukan normalisasi sungai. Tampaknya Ali Musri
ditantang untuk sigap. Kepada dinas Pertanian, saya pintakan agar
kembali menata ruang-ruang pertanian yang rusak itu. Syukur
alhamdulillah, Jonny, kepala dinasnya cepat menanggapi dengan melakukan
pertemuan kilat dengan sejumlah kelompok tani dan jajaran pertanian
kabupaten Pasaman. Begitu juga dengan Dinas Sosial, kepada Pak Gaffar,
kadisnya, saya garis bawahi benar supaya distribusikan bantuan dengan
cepat dan tepat sasaran. Jangan sampai, bantuan salah alamat yang tak
tiba pada yang seharusnya mendapat.
Saya beri apresiasi
plus kepada Pak Bupati Benny yang tampaknya bekerja dengan sangat
maksimal dan melakukan kordinasi dengan sangat baik dengan
jajaran-jajaran terkait. Tampak benar kesungguhan Pak Bupati dalam
meringankan beban rakyatnya yang sedang menimpa musibah. Adalah sebuah
sikap yang sangat amanah dan bijaksana manakala dalam derita, dalam
gelisah, pemimpin senantiasa berada di tengah masyarakat dan tak
meninggalkkan masyarakatnya dalam bancah bencana. Dan itu telah
diulakukan Benny dengan selalu ada dan berada untuk masyarakatnya, baik
dalam susah maupun dalam senang.
Soal jalan yang porak
poranda, tentu kita bangun kembali. Kita berharap masyarakat Nagari
Simpang lekas bangkit dari himpitan musibah. Dan sebuah musibah tak
harus membuat kita patah atau rebah, tapi membuat kita tersadar untuk
lekas bangkit dan berdiri dari segala keterpurukan. Dan, kita akan tetap
dan selalu bersama masyarakat(MK)



